Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 Desember 2014

Mangrove Center Graha Indah Balikpapan



Balikpapan memang bukan kota wisata, kota yang dijuluki kota minyak ini penduduknya pun kebanyakan pendatang dari luar daerah yang datang untuk merantau atau bekerja di industri-industri yang konsentrasinya kebanyakan di ladang minyak atau tambang.
Untuk memenuhi hasrat liburan selain Mall, balikpapan punya pantai, penangkaran buaya taritip, atau kalau mau yang agak jauh ke taman wisata Bukit Bangkirai yang terletak di KM 38. tak banyak yang tahu balikpapan punya potensi wisata lain yaitu Mangrove Center.
Setahu saya ada 3 konsentrasi tempat budidaya Mangrove, salah satu yang sudah resmi dibuka dan pernah saya kunjungi adalah Mangrove Center di Graha Indah Karyangau. Dari judulnya udah jelas ya.. wisata yang dilihat adalah tanaman Mangrove. Mangrove ini sengaja ditanam di pesisir pantai dan hilir sungai untuk mencegah abrasi juga untuk melestarikan habitat fauna borneo seperti Bekantan.

Di Mangrove Centre Karyangau kita bisa menyewa perahu klotok untuk berkeliling menyusuri sungai Somber selama 1 jam bolak-balik dan tentunya ditemani oleh tur guide. Untuk menyewa perahu dihargai sekitar 300rb per perahu bisa di isi sampai 10 orang.
Selama menyusuri sungai dengan klotok kita bisa melihat Bekantan yang lagi cari makan. Jumlahnya cukup banyak, terutama saat menjelang sore banyak tampak keluarga bekantan yang keluar mencari makan di pucuk pohon Mangrove yang menjulang. Berasa lagi di pedalaman kalimantan kalau nyusur sungai gini, kanan kiri rimbun hutan mangrove, kalau mesin klotoknya dimatikan cuma kedengaran suara alam, burung berkicau dan suara bekantan, terasa banget lah suasana di hutannya.

Mangrove Center Graha Indah



Untuk menuju tempat ini, dari pertigaan jl soekarno hatta km 6, belok ke arah Karyangau, lalu ikuti jalan sampai ketemu gapura Graha Indah, kawasan ini merupakan komplek Perumahan, dari sini sudah ada panduan berupa plang hijau kecil dengan tulisan berwarna putih yang akan membawa kita ke pintu masuk konservasi, semakin kedalam jalannya akan semakin kecil tapi masih cukup untuk mobil masuk. Kalau berencana tur perahu, jangan terlalu sore datangnya, maksimal jam 4 sore.



si Capt kapal klotok lagi cari petunjuk :p


Senin, 09 Juni 2014

Pendakian Merbabu 3142 mdpl


Pemandangan di atas pasti kita lihat tatkala melintasi udara Yogyakarta, istimewa memang, Ring of Fire nya Jawa yang mengelilingi daratan eksotik nan subur ini. Selama bertahun-tahun yang lalu cuma bisa lihat dari pesawat (telat kena 'racun' naik gunung sih), akhirnya di ujung Mei lalu berkesempatan menapakkan kaki di salah satu gunung indah Jawa Tengah, Merbabu. Rela saya jauh-jauh terbang dari bumi Borneo lagi untuk mengobati kerinduan muncak dan menguji diri sendiri. Memanfaatkan harpitnas dan dengan mengopyak-opyak beberapa teman yang tersisa di jogja berangkatlah kita tanggal 27-28 Mei 2014 dengan jumlah tim sebanyak 5 orang.


Gunung Merbabu memiliki ketinggian 3.142 mdpl, dan memiliki 7 puncak dengan Puncak Trianggulasi sebagai puncak tertinggi. Ada 4 jalur yang dapat ditempuh untuk mencapai puncak, jalur Utara (Wekas, Cunthel, Tekelan) dan jalur Selatan (Selo). Kebanyakan orang memilih naik dan turun lewat jalur yang berbeda, misal Wekas-Selo, Cunthel-Selo, Tekelan-Selo apalagi bagi yang mau lanjut lagi ke Merapi bisa terus lewat Selo. Kami memilih jalur Selo untuk naik-turun dengan pertimbangan : dekat dengan jogja, bawa kendaraan pribadi yang akan ribet kalau start-finish di jalur berbeda dan jalur Selo terkenal dengan sabana indahnya. Kekurangannya jalur Selo adalah jalur yang panjang dan tak ada sumber air sepanjang jalur pendakian, sehingga stok air harus disiapkan dari bawah dan harus cukup untuk naik-turun.

***

every journey begins with one step

Rute Merbabu via Jalur Selo :
Basecamp - Pos 1 - Pos 2 - Pos 3 - Sabana 1 - Sabana 2 - Puncak Trianggulasi dan atau Puncak Kenteng Songo
*note : perjalanan kami santai dan tidak ketat dengan waktu :D

And here we are, dengan bahan dan peralatan survival selama di gunung, berangkatlah kita dari basecamp pukul 13.30. Bismillah, berdoa bersama memohon keselamatan dan perlindungan, karena puncak adalah tujuan namun pulang dengan selamat jauh lebih utama. Perjalanan dari basecamp menuju Pos 1 kami tempuh selama 1,5 jam. Jalur didominasi hutan cemara di track awal, kemudian hutan heterogen yang rimbun, medannya masih nanjak standar, dan sesekali track datar 'bonus'. Selama perjalanan sering banget papasan sama pendaki yang mau turun, mereka tak hentinya berujar "semangat ya mbak, mas, dikit lagi'. Yak,semua mendadak saling sapa di gunung, hal yang gak pernah kita temui kalau ke mall. 

Setiap pos atau di tengah jalan kami selalu luangkan waktu untuk break sejenak, istirahatin punggung yang bawa 'beban hidup', ngatur napas, lurusin kaki.. Track mulai terasa menantang waktu mau masuk Pos 3, ada beberapa jalur yang sempit dan licin.

Pukul 17.20 kami sampai di Pos 3, disini mulai terlihat pepohonan Edelweis yang tumbuh di punggung bukit


edelweiss menyambut di Pos 3


Camp Ground di Pos 3, udah keliatan Merapinya

Hawa dingin bergelayut, gelap pun turun, badan capek plus laparr akhirnya tim kami memutuskan untuk nge-camp di Pos 3 saja, meleset dari rencana awal kami untuk camp di sabana 1 atau 2. Dirikan tenda, masak makan malam berupa sayur sop hangat + sarden telur.. sedangkan nasi sudah kita bawa dari bawah, kemudian sholat dan istirahat. Rencananya sih mau summit sambil sunrise berangkat jam 3 pagi.

Sebelum tidur, stargaze dulu, kapan lagi menikmati bintang-bintang di tempat yang minim polusi cahaya gini.

shillouette of Mt Merapi under the sky full of stars
*milky way kepotong karena cuma ada lensa standar :D


cahaya masa lalu yang indah


pas hunting ini, temen saya kena 'ranjau' darat yang gak di pendam sama yg punya. hhedehh
***

Jam 3 pagi, semua tim mulai menggeliat malas karena dingin dan pengen pipis. kami menghangatkan badan bikin teh panas, setelah diskusi, sepertinya pada berat kalau harus summit sepagi ini.. akhirnya, summit attack pun ditunda, tedoor lagi.. wkwk..

Jam 5.20 pagi.. sudah mulai terang tapi masih dingiinn.. pas buka tenda.. waw samudera awan menyambut di ufuk timur, berpadu langit membentuk garis horizon, dengan puncak gunung Lawu menyembul di antaranya. Serasa negri di atas awan.. Cakep !!

"Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari" indahnya


mata-hari
(c) kinaryo

   
merapi dari balik bukit pos 3 selo

sekitar 8 pagi setelah sarapan kami berangkat muncak.. muncak yang kesiangan !
Tenda dll ditinggal di Pos 3, yang kita bawa hanya tas daypack berisi air, makanan kecil secukupnya dan mantel untuk jaga-jaga. Pos 3 menuju Sabana 1 tracknya gak jauh memang tapi terjalnya sampai bikin merangkak-rangkak naik.

Sumbing yang ngintip, ditengah jalan menuju Sabana 1

Sabana 1, camp ground yang cukup luas. Salah satu teman kita memutuskan gak ikut lanjut perjalanan muncak di sini, wah padahal nanggung. Di Sabana 1 kabut mulai turun, sempat pesimis juga gak akan dapat view, tapi tetap harus majuu, kapan lagi kesini. Sambil nunggu kabut reda kita duduk istirahat. Lalu lanjutin perjalanan, 20 menitan kemudian sampailah kita di Sabana 2.. Padang Sabana yang luaaasss dan kereennn... cukup banyak yang ngecamp disini, tapi harus pandai-pandai cari perlindungan  dari angin karena minim pohon.


Sabana 2, dan bukit 'php' dibelakangnya yang mengantarkan kita ke puncak
wallpaper windows xp 




tetap senyum walau badan pegel
Dari Sabana 2 tinggal selangkah lagi menuju Puncak. Selangkah yang penuh perjuangan karena kaki makin pegel tapi semangat masih on-fire.. Bukit dibelakang itu yang keliatannya kecil tapi ternyata tinggi.. membuat kita ngerasa udah deket puncak tapi ternyata belom.. Butuh waktu hampir  2 jam untuk sampai puncak.. tiap 5 langkah, berhenti, kaki gemeter.. balik badan ke belakang liat gundukan sabana dan gagahnya merapi.. ahh.. indahnya bikin kita semangat lagi untuk naik, bikin nyeri di kaki ilang tiba-tiba.. tapi abis 5 langkah.. capek lagi.. haha.. 



hampir puncak ! pemandangan ini jadi penyemangat pas capek



on Top.. Puncak Kenteng Songo
Puncak Trianggulasi 

sekitar jam 12 kami sampai Puncak Trianggulasi, sungguh tak ada yang istimewa di sini, hanya sepetak tanah seukuran lapangan badminton yang gersang.. tapi sensasinya terasa dalam hati.


kadang mikir apa coba yang kita cari disini, capek-capek, panas-panas, jauh dari kata nyaman.. tapi ya inilah, hadiah dari keringat dan semangat.. keindahan yang diberi sang Pencipta, juga kepuasan telah menaklukan batas kemampuan diri sendiri.
Mungkin ini zat adiktif yang merasuk para Pendaki. Segala keluh kesah keringat terbayar saat sampai puncak, kadang selama perjalanan mengeluh capek ini itu, tapi saat raga sudah jauh dari ketinggian, rasa rindu itu tetap ada dan memanggil-manggilmu untuk berada di puncak lagi. "Karena bukan gunung yang kita taklukan tapi diri kitalah"

okeeh cukup ceramahanya :D .. setelah istirahat dan foto-foto kami lanjut ke Puncak Kenteng Songo yang hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari Puncak Trianggulasi. Yak, Merbabu memang punya lebih dari 1 Puncak dan yang tertinggi adalah Puncak Kenteng Songo. 




 
***


view jalur utara dari Puncak Trianggulasi



view Sabana 2 ke Sabana 1









Jam 12.30 kita turun ke pos 3, makan secukupnya, beres-beres tenda, bawa turun semua sampah lalu turun ke basecamp.. Kasur udah manggil-manggil.
Di tengah perjalanan turun kita ketemu sama sepasang anak muda yang baru lulus SMA  dari Jakarta, yang akhirnya kita ajak bareng sampai ke jogja.. (Sayang gak sempat tuker CP, semoga kita bisa ketemu lagi )

Jam 8an malem sampai basecamp ambil kendaraan yang dititipkan di rumah warga lalu cuss pulang ke Jogja. Alhamdulillah semua personil sampai dengan keadaan selamat tanpa kurang satu apapun.


*Time record perjalanan kita, harap maklum kalau lambat :))

Hari ke 1 : 27 Mei 2014
Start dari Basecamp Selo jam 13.30 (kesiangan dari jogja)
Basecamp - Pos 1 = 1,5 jam ( 13.30 - 15.00)
Pos 1 - Pos 2 = 1,5 jam (15.10 - 16.40)
Pos 2 - Pos 3 = 1,5 jam lebih dikit (16.50-17.30)
ngecamp di Pos 3 karena hari sudah gelap

 
Hari ke 2 : 28 Mei 2014
Pos 3 - Sabana 1 = 1 jam (7.40-8.45)
Sabana 1 - Sabana 2 = 25 menit (9.10-9.35)
Sabana 2 - Puncak Trianggulasi =  2 jam (9.45-11.50)
Puncak Triangggulasi - Puncak Kenteng Songo 5 menit

Total waktu yang kita butuhkan 8 jam ! :D ini perjalanan yang sangat santai, banyak istirahat dan banyak foto-foto. kalau yang kaki dan fisik nya kuat bisa 'cuma' 6 jam. 

PS : usahakan selalu ajak temen yang doyan fotografi agar selalu bisa eksis :D




ini peta perjalanan dan ETA yang bermanfaat banget walaupun waktu tempuh kita lebih lambat.
*Dapet nemu dari internet, thanks to yang buat !!

Selasa, 10 September 2013

(another) sunrise spot : Gunung Purba


Sunrise.. Sunrise... Ada banyak cara menikmati sunrise salah satunya dengan menikmati breath-taking moment ini di spot-spot tertentu di ketinggian. Selain Setumbu Magelang, tempat lain menikmati sunrise di area sekitar yogya ada di Gunung Purba, tepatnya di kecamatan Nglanggeran, kabupaten Gunung Kidul, DIY. Lagi-lagi Gunung Kidul, memang kabupaten ini punya aset wisata alam yang sangat potensial dikembangkan.

Untuk mencapai Nglanggeran dari kota Yogya hanya 1,5 jam (saat jalanan sepi) - 2 jam jika lalu lintas padat. Jika tujuan anda adalah sunrise maka pastikan berangkat pagi-pagi buta dari jogja atau nge-camp. Kami berangkat sekitar pukul 02.30 dini hari, sampai di TKP sekitar pukul 03.30 lebih. Ternyata sudah banyak kendaraan lain yang parkir di area gunung purba, pertanda di atas puncak sudah ramai. Setelah parkir dan bayar retribusi masuk gunung purba sebesar @ 7000 rupiah, kita lanjutkan perjalanan puncak gunung purba dengan jalan kaki. Karena gelap, senter sangat membantu kami menemukan arah jalan, o iy katanya sih bisa sewa guide juga, tapi berhubung ada seorang teman yang udah pernah kesana akhirnya kita urung sewa guide. 

Perjalanan menuju puncak di dominasi oleh tanjakan terjal dan berbatu, ada beberapa ruas dengan tangga semi vertikal yang terbuat dari batang pohon dan lorong sempit dari batuan besar yang berhimpit, beberapa jalur sudah diberi anak tangga sederhana dari batuan. Perjalanan ini memakan waktu sekitar 1 jam, tergantung seberapa cepat kaki melangkah dan seberapa lama waktu istirihat. Cukup bikin ngos-ngosan.
Sampai di puncak, langit masih gelap, bintang-bintang bertaburan, semua teraang dan jelas terlihat karena gak ada polusi cahaya.. indaahh.. Suhu di atas belum begitu dingin saat kami sampai puncak, namun perlahan tapi pasti seiring dengan mendekatnya waktu matahari terbit, suhu semakin menurun bersama kabut.. brrr...dingiiin..

Sebenarnya di  Gunung Purba ini, kita tidak bisa melihat mataharinya, melainkan hanya kabut dan panorama langit saat sunrise. Hal ini karena, banyaknya tebing tinggi yang menghalangi matahari terlihat, tidak seperti di Setumbu yang memang menyajikan sunrise dengan dataran rendah luas di bawahnya. Yang membedakan disini adalah kabut yang berarak berjalan saat matahari terbit.. cakeepp kayak arus sungai.. :)


kabut yang berarak mengalir saat sunrise


sunrise yang terhalang bukit

kabut yang mulai turun menipis


Merapi dari Gn.Purba






sebagian trek gunung purba

finally !

Selasa, 23 April 2013

Air Terjun Sri Gethuk -- menikmati 'Green Canyon' ala Gunung Kidul


Tak mau kalah dengan Pangandaran di Jawa Barat, Yogyakarta juga memiliki pesona 'Green Canyon', lokasinya ada di Gunung Kidul. Walau sepertinya tidak sepanjang penyusuran sungai di Pangandaran, namun tempat ini cukup menawarkan perjalanan yang berbeda.

Perjalanan penyusuran 'Green Canyon" ini sebenarnya hanya berujung untuk melihat air terjun yang bernama Sri Gethuk. Kenapa disebut 'Green'? karena di musim kemarau, sungai yang dilewati akan berwarna hijau bersih. Tapi, apa jadinya kalau musim hujan? Maka, sungai ini menjadi coklat keruh + butek.. kita sebut menjadi "Brown" Canyon.

Air terjun Sri Gethuk berlokasi di Bleberan, Gunung Kidul. Masuk area ini, kita akan melewati pos penjaga wisata yang dikelola oleh kelompok pemuda karang taruna daerah sekitar, disini kita ditawari untuk ikut paket tur atau bayar di lokasi. Setelah bertanya, ternyata lokasi ini tidak hanya ada air terjun Sri Gethuk saja tapi juga Gua Kencono. Untuk harga Paket @ per orang dikenakan tarif 15ribu ,kl gak salah inget, (termasuk pemandu, tiket masuk Gua Kencono, tiket masuk Air Terjun Sri Gethuk, Sewa Pelampung dan Sewa perahu), setelah menimbang-nimbang kami pilih untuk ikut Paket tur.

Dengan dipandu guide, kami mula-mula masuk ke Gua Rancang Kencono lalu tujuan kedua/terakhir adalah Air Terjun Sri Gethuk.

1. Gua Rancang Kencono

Gua ini punya keunikan karena tepat ditengah pintu guanya ada pohon besar yang tumbuh melindungi tanah dan gua di bawahnya. Konon katanya, ada seorang kiai yang pernah menancapkan tongkatnya di tanah tersebut lalu tumbuhlah pohon tersebut. dan,, katanya.. beliau sampai saat ini masih menjaga gua ini..(merinding tiba-tiba).




Ruangan dalam gua ini sempit, karena sempit sudah dipastikan oksigen di dalamnya juga sedikit maka untuk masuk ke dalamnya (bagi yang berani & tidak phobia ruang tertutup) harus bergantian. Lubang masuk ruangannya pun sangat sempit hanya cukup lebar 1 orang dan kita harus berjalan menunduk.



lubang masuk ruangan dalam gua yang sempit


Kisah Gua Kencono ini rupanya cukup terkenal, belakangan setelah keluar gua, kami baru diinfokan kalau Mister Tukul pernah kesini untuk meliput kisah mistiknya dan melukis penghuni gua. woww.. O.O




2. Air Terjun Sri Gethuk

Penyusuran sungai dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu : Jalan kaki (gratis) atau naik perahu motor (bayar), pulangnya bisa milih mau jalan kaki, naik perahu lagi, atau body rafting --> memasrahkan badan terbawa arus sungai. Pertama kali sampai, sudah terlihat antrian pengunjung yang antri naik perahu, tapi karena kita ikut paket tur, dapet keistimewaan gak perlu antri panjang-panjang, ada perahu datang langsung naik (berasa jadi VIP -halah). Di perahu, tak lupa kita pakai pelampung. Naik perahu menyusuri sungai sambil lihat pemandangan kiri kanan berupa tebing dan air sungai yang sayangnya berwarna coklat akibat musim penghujan dan dalam waktu kurang dari 10 menit kita sudah sampai di air terjun.


perahu modifikasi dengan motor

'brown' canyon 










Foto-foto sebentar, celup-celup badan sebentar (airnya menyegarkan pada tengah hari yang terik siang itu), lalu nyoba jumping dari batu karang ke sungai di bawah sambil pose-pose (pemandu dengan senang hati motretin), dan setelah puas main air, kita pulang dengan 'body rafting' .. yak menghanyutkan badan kita dalam arus sungai sampai ke tempat kita berangkat (jangan takut, pemandu akan selalu menemani dan pelampung juga tetap terpakai)
Agenda terakhir adalah bersih-bersih dan mandi di kamar mandi umum yang sudah disediakan.



Tips :
1. bawa baju ganti dan perlengkapan mandi
2. BEST TRIP --> datang pas musim kemarau, airnya jauh lebih bagus daripada saat musim hujan
3. bawa kamera, tapi hati-hati tercelup air.

Rabu, 24 Oktober 2012

Mystical Sunrise at Punthuk Setumbu

Menikmati 'borobudur sunrise' dengan budget ala backpacker sangat bisa kita nikmati di Punthuk Setumbu. Punthuk Setumbu adalah salah satu spot terbaik untuk menikmati sunrise dengan pemandangan borobudur yang diselimuti kabut dan background gunung Merapi - Merbabu.

Punthuk Setumbu baru beberapa tahun belakangan ini menjadi primadona penikmat sunrise dan pemburu foto. Letaknya masih di sekitar komplek Borobudur, tepatnya di desa Karangrejo, Magelang, Jawa Tengah. Punthuk Setumbu ini sebenarnya adalah sebuah bukit yang tanahnya masih digunakan warga sekitar untuk bercocok tanam, tapi di satu titik dikelola warga sebagai tempat untuk menikmati sunrise.

Karena judulnya menikmati SUNRISE, maka hal pertama yang harus dilakukan adalah bangun sangat pagi sekali ! Pukul 5 lebih pada akhir musim kemarau begini biasanya matahari sudah mulai menunjukkan semburat sinar merahnya jadi pastikan pukul setengah 5 harus sudah di TKP
Waktu yang kami butuhkan dari jogja menuju punthuk setumbu adalah sekitar 1 jam, maka kami berangkat pukul 3 pagi. Untuk mencapai daerah ini, kita melalui jalan yang sama seperti ke Borobudur, kemudian sampai di Borobudur belok kiri (mengikuti arah Hotel Manohara -- Punthuk Setumbu), lewati hotel Manohara terus saja melewati perkampungan warga sampai ketemu perempatan WARUNG pertama, belok kanan, ikuti saja jalan utamanya agak jauh, sampai ketemu mesjid kecil di sebelah kiri dan ada poskamling dengan plang Punthuk Setumbu disebelah kanan.

poskamling depan mesjid (gambar diambil saat pulang)

jalan menanjak menuju loket retribusi


loket retribusi dan tempat parkir atas
Kendaraan bisa di parkir di mesjid atau naik (disediakan lapangan parkir di atas) dengan jalan yang cukup terjal. Lebih disarankan parkir di atas karena, jika parkir di bawah energi kita sudah habis setengah untuk mendaki. Nanti di atas ada retribusi, 15 ribu per orang, ada guide dipinjamkan senter dan dipandu menyusuri jalan setapak (jika semalam hujan pasti becek). 


Setelah 20 menit yang menguras nafas (ketauan jarang olahraga) sampai juga di punthuk setumbu.. breathtaking sejenak lihat pemandangan cantik dengan kabut-kabut yang mulai turun menutupi pohon dan borobodur sambil menunggu matahari naik -- thats why i called it 'the mystical sunrise' :D .

Kira-kira ini yang bisa kita lihat dengan mata telanjang :
23 Oktober 2012 jam 05.37

23 Oktober 2012 jam 06.26


Dari mata lensa alias udah di zoom plus crop pic






mystical sunrise :) -- Punthuk Setumbu

the misty borobudur
 *Harus jeli sekali melihat borobudur yang mini tersamarkan oleh pohon-pohon di sekeliling yang tingginya hampir setinggi borobudur.

Nah, Karena judulnya wisata alam dan yang kita lihat adalah prosesi alamiah dari sunrise maka nasib anda tergantung pada cuaca, jika cerah terlihat tapi jika mendung maka pemandangan tak terlihat. Beruntung hari itu cerah, tidak seperti hari sebelumnya yang mendung sehingga menghalangi pemandangan mystical ini. Gunung Merapi-Merbabu pun juga tampak walaupun awalnya ada sedikit awan yang menutupi. Sebenarnya ada tips untuk mengunjungi punthuk setumbu ini, lihat cuaca hari sebelumnya atau lihat langit malam sebelum berangkat, jika langit cerah dengan taburan bintang yang terlihat, bisa di-RAMAL-kan pagi itu tidak ada mendung. *hm tapi manusia hanya bisa meramal, Tuhan juga yang menentukan :p

Highlight :
  • Di area ini juga disediakan beberapa homestay, jadi bagi wisatawan luar daerah yang tidak ingin terlalu jauh dari setumbu bisa menginap disini.
  • Siapkan alas kaki paling nyaman untuk digunakan mendaki
  • Bawa air putih, walaupun disediakan juga teh/kopi hangat gratis untuk pengunjung
  • Datang sebelum jam 5 pagi agar tidak terlalu terburu-buru naik bukit dan mengakibatkan capek
  • Bawa teropong lebih baik untuk melihat borobudur, karena borobudurnya kecil sekaliii
  • Bawa perlengkapan fotografi
 Behind the scene
enjoying sunrise


gardu pandang setumbu

jalan setapak turun dari setumbu


keywords : Punthuk Setumbu, Thuk Setumbu, Stumbu, Borobudur Sunrise, Magelang