Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gunung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juni 2015

Pendakian Rinjani 3726 mdpl

"Dont just dream your travel, but travel your dream.." 

Pendakian ini terealisasi pada tanggal 29 Mei - 3 Juni 2015. Dan berikut cerita catatan perjalanannya dari mulai cari temen, persiapan logistik transport akomodasi, dan alur perjalanan pendakian dari Sembalun - Senaru. *note : waktu tempuh pendakian kami terhitung sangat santai*


INTRO 
Hal yang paling utama dan pertama dalam persiapan naik gunung adalah CARI TEMEN !
Alkisah, udah ngebet banget naik Rinjani, karena temen2 trip ke Meru tahun lalu belom bisa menyamakan schedule jadilah gimana caranya saya kudu wajib bisa ke sana bulan Mei (mumpung ada yang back up kerjaan). Cari temen searching di twitter dengan hestek "joinrinjani15" yang digawangi oleh @InfoRinjani, akhirnya dapet temen trip seorang wanita juga (which is ini yang susah) dan dia juga masih sendirian.. Langsung aja saya samberrr..

Setelah fix nyesuain jadwal dan itinerary gono gini termasuk share cost porter dan kebutuhan lainnya, temen saya ini sebut saja dy iin.. ngepost ajakan trip rinjani di forum bpi (backpaker indonesia). Kurang lebih H -7 anggota kami terus bertambah 1 cowok ketemu d twitter.. 2 cowok & sepasang suami istri muda nemu di bpi. Lalu kemudian di bandara pun saya nemu seorang pendaki cowok lagi yang belom punya temen naik. jadi total tim pendakian kami kali ini sebanyak 8 orang dengan 5 orang pria dan 3 orang wanita (usia paling muda 20 th dan paling tua 30 th, rentang yang tak terlalu jauh bukan ?). 

Walaupun kami semua belum pernah ketemu muka satu sama lain, pas ketemuan semuanya seru dan baik-baik, gak ada yang terlalu dominan ngatur atau terlalu manja, everyone has good sense of humor too ! baru ketemu aja udah pada sering bercanda :D salah satu grup trip terbaik yang pernah saya temui. 



Mereka adalah Iin (Jakarta), Wira (Semarang), Cipto (Denpasar), Ardi (Indramayu), Ucup (Balikpapan), dan Galuh & Denis 'gondes' (Malang)



Meet Up (29 Mei 2015)

Hari pertama kita meet up di BIL (Bandara Intl Lombok, Praya). Disana kita udah di tungguin sama Kang Sabar, rekomen temen Wira. Mobil yang kita gunakan jenis Pick-Up buat ngangkut sayur dengan tarif 80rb per orang, udah dianter sampe basecamp dan pos registrasi. Kesan pertama kami sama Kang Sabar ini orang nya ramah banget dan doyan ngobrol, setelah 5 anggota komplit, sekitar jam 14 WITA kamipun berangkat ke Mataram dulu untuk jemput 3 anggota lain yang udah duluan. Di Mataram kami nyicil beli logistik di Indomaret Mantang.. fyi di mataram bejamur banget nih alfa-indomaret, jalan dikit ada kanan kiri pulak. 

Normalnya dari BIL - Sembalun menempuh waktu 3 jam an tapi karena kita banyak berhenti untuk makan, ambil titipan, jemput sana sini, belanja logistik akhirnya kami sampe di Sembalun jam 22.30 WITA (ngaret tingkat tinggi !) padahal ini belum belanja sayuran & lauk selama ngecamp karena Pasar Aikmel nya keburu tutup. 

Di Sembalun kami nginep di basecamp Kang Sabar sebelum besok paginya berangkat. Cukup muat untuk kami ber 8, bentuknya rumah dengan 2 kamar utama, 1 ruang tamu, ruang tengah dan 1 ruang sholat, ada 2 kamar mandi juga di depan rumahnya (sumber air sumur yang dingiin), Kang Sabar gak matok tarif selama kita tinggal di sini, katanya sih terserah seikhlasnya (dan ini yang bikin gak enak), kalau mau bisa juga pesen makanan ke istri kang sabar.
pemandangan dibelakang basecamp Kang Sabar, sapi aja tau background yg bagus buat foto :D




Day 1 (30 Mei 2015)

Sebelum naik kami harus daftar ke Pos Registrasi Sembalun untuk mengisi data anggota dan bayar retribusi (wisatawan lokal 5ribu per hari) sekalian belanja bahan makanan untuk di masak di Pasar setempat, dianter lagi pake pick up kang sabar.

sayangnya.. Pasar di Sembalun ini belum pada buka dan masih seppiiiii meski udah hampir jam setengah 9 pagi. Padahal di sembalun kan ladangnya sayur dari bawang, kol, wortel dll tapi pasarnya kok bisa sepii.. ternyata oh ternyata hasil tani nya di turunin ke Pasar besar macam di Aikmel dulu baru di distribusikan ke pasar pasar kecil lain.. hedeeh. jadinya kita belanja ala kadarnya, pun harganya juga termasuk mahal untuk ukuran desa. Sebut saja Kacang Panjang seiket kecil 2K, jeruk lokal sekilo 15K, perasaan di balikpapan jeruk sekilo cuman 7K, kacang panjang 2K udah dapet seiket sapu lidi --'. Jadi teman-teman lebih baik belanja bahan segar di Ps Aikmel, atau kalau takut pasarnya tutup mending di Mataram aja, seenggaknya masih ada warung atau super market (eh tapi mall baru ada 1 ding d mataram hehe). Lepas belanja sayur, tempe, buah dll kami balik ke basecamp untuk persiapan dan packing ulang. 


Pukul 10.30 an pagi kami udah ready untuk memulai perjalanan. jumlah tim kami 8 orang + Porter 2 orang. Kabut mulai turun tapi gak sampai hujan, cukup melindungi kami dari terik matahari saat melewati padang Sabana nan luas nanti. Target camp kami adalah Pos 3. Kami start melalui jalur Bawak Nao, bukan jalur yang umum sebenarnya. Katanya sih lewat sini bisa hemat sekitar 2 jam dibanding jalur biasa, titiknya akan ketemu di Pos 1.


hompipah dulu dari basecamp kang sabar

masih seger



sabana via Bawak Nao

Sepanjang jalan jalur Bawak Nao, masih banyak ladang sawah, melewati jalur sungai kering, lalu sedikit hutan tertutup dan padang rumput yang dipakai sapi-sapi warga merumput, sepanjang jalan juga banyak 'ranjau' si sapi, semakin mendekati ke Pos 1, jalurnya lumayan nanjak. Jam 13.20  kami sampai di Pos 1. 


Di Pos 1 kami istirahat, jama' sholat dzuhur ashar. ada sumber air juga di sebelah barat bangunan Pos, tapi airnya gak ngalir dan keruh. Lanjut ke Pos 2, jalannya full sabana, cenderung landai datar dengan sedikit nanjak. 

Sampai Pos 2 jam 14.45, kami makan siang nasi bungkus yang udah kita bawa dari bawah.
Istirahat sampai hampir jam 15.30 baru kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 3

Sabana dari Pos 1 ke Pos 2

Salah satu porter kami






Pos 2 ke Pos 3, trek mulai nanjak, levelnya lebih tinggi dibanding mau ke Pos 2. 
Pukul 18 lebih kami baru tiba di Pos 3




Jembatan Pos 2
sabana dari Pos 2 ke Pos 3
Hampir sampai Pos 3 Sembalun



Day 2 (31 Mei 2015)


Malam itu dingin banget di Pos 3, sampai susah tidur saking dinginnya, deru angin diatas juga terdengar cukup kencang, seperti hujan tapi ternyata langit cerah. Dari Pos 3, sudah terlihat titik titik senter kecil yang bergerak ke arah Puncak. Hampir subuh, pasti itu senter pendaki yang summit. Gak bisa tidur, kami hunting hunting milky way sambil nunggu pagi. 

Pos 3 Sembalun, cahaya kecil di atas bukit itu senter pendaki yang summit


Jam 8.30 setelah sarapan nasi goreng ala chef wira, mi rebus dikit dan masak roti bakar untuk bekal kami beres-beres untuk kemudian capcus ke camp kami berikutnya yaitu Plawangan Sembalun. Dan menurut cerita, kami akan melewati 9 Bukit yang banyak disebut orang "Bukit Penyesalan'. Baiklah mari kita buktikan kedahsyatannya.














baru mulai, tanjakannya udah bikin ngos-ngosan :D. 3 bukit pertama kami lewati dengan baik dan cukup banyak istirahat juga foto-foto narsis.. pemandangannya juga cakep. 3 bukit tengah kami udah mulai terbiasa (di php-in)  dengan bukit yang gak abis-abis ini. sempat istirahat untuk makan roti bakar dan kupas nanas juga. Nah.. 3 bukit terakhir.. masya allah... dahsyatnyoo tanjakannya.. sampe merayap & kepeleset juga karena tingkat kemiringan terjal dan kontur tanah yang licin berdebu membuat saya cukup waspada karena takut jatuh. 


jadi kira-kira begini penampakan camp Plawangan Sembalun dan Puncaknya.. tampak dekat dimata tapi jauh dikaki!   (gambar diambil dari belakang basecamp Kang Sabar)
bukit penyesalan level 1 - sambil neduh di bayangan pohon

bukit penyesalan level 7





bukit penyesalan level 9

 

Jam 1 siang.. akhirnya kami sampai juga di Plawangan Sembalun. sayang kabut mulai turun, sehingga danau Segara Anak yang hits itu belum nampak di mata. Setelah istirahat sebentar kami mencari tenda kami yang sudah pasti di dirikan lebih dulu sama bapak porters.. secara mereka kan cepet banget. Disusur susur gak ketemu-ketemu nih tenda, udah hampir pengsan karena kelaparan. setelah setengah jam jalan rupanya tenda kita di ujung, deket sama tempat start untuk summit. Mayan lah curi start ntar malam. Tenda kami juga dekat dengan percabangan ke arah sumber mata air di Plawangan Sembalun, tapi waktu tempuhnya hampir setengah jam juga sih.


kalo ini gaya naik rinjani paket bintang 5 nih.. dibawain kursi santai



Kegiatan kami sore itu masak-masak untuk makan malam ditemani kera-kera yang kadang muncul dan menanti sunset ! Beruntung, sore itu tak ada kabut sehingga kami dengan jelas bisa melihat danau Segara Anak dan Gn Baru Jari di bawah
bikin bakwan

one of the best sunset view in my life



Usai magrib kami pun beranjak tidur. Malam itu bulan terang banget, suasana camp area juga ramai riuh para pendaki. Alamat rame nih besok summit.

 Day 3 (1 Juni 2015)


Jam 1.30 kami sudah siap untuk summit. Sarapan energen dan makanan ringan biar kuat summit. Tenda kami di jaga sama bapak porters, carier kami juga di satukan dalam tenda yang sama karena Plawangan Sembalun terkenal rawan maling ! Bahkan ada juga yang tega merobek tenda untuk ngambil barang yang dianggap berharga.

Summit Rinjani ini beda tipis sama Semeru, treknya kerikil pasir, tapi Rinjani treknya lebih puanjang, batunya pun lebih besar ukurannya dibanding semeru. Menurut saya summit Rinjani dibagi jadi 3 bagian.. bagian 1 jalur kerikil kecil dan pasir... bagian 2 jalannya agak datar dan tanahnya stabil untuk dipijak dan bagian terakhir yang paling berat (Letter E), disini mulai tanjakan curam dengan kombinasi kerikil dan batu sedang, kalau di Semeru treknya empuk dan gembur, kalau di Rinjani keras.. kepeleset dikit sakit. Saya dan beberapa teman menyaksikan sunrise di Letter E ini, sempat duduk istirahat juga karena ada temen yang hampir hipotermi. Cuaca hari itu cerah dengan angin kencang membuat suhu dingin semakin menjadi.. brrr... berjuang melawan dingin, capek dan emosi itu sudah pasti



1st sun in June


bayangan barisan para pendaki

Jam 07.30 akhirnya bisa sampai puncak. Alhamdulillah..Capek pun hilang seketika berganti senang dan haru. saya cari ms Ucup dan Wira yang sepertinya udah duluan sampai. Kami pun menunggu tim lain yang sebentar lagi nyusul karena jarak kami tak jauh. 
full team at the Peak 3726 masl

Setelah ceremonial, bikin video dan poto-poto pastinya, jam 9 kami turun ke camp. Butuh waktu 2,5 jam untuk saya kembali ke Plawangan Sembalun. Gak bisa turun ala sandboarding gitu di sini, batunya bikin keseleo kaki kalau buat merosot.
Segara Anak dan Gn Baru Jari tampak dari atas





 Nyampe di camp ada sedikit insiden, karena tenda galuh & denis dijebol maling, kondisi tenda di gembok dan carier mereka gak dititip porter, ini yang bikin maling malah jadi suspek ada benda berharga, terdeteksi walkie-talkie dan power bank mereka raib di gondol maling, tenda pendakian lain ada juga yg kehilangan jaket


Jam 13.30 siang setelah makan dengan menu nasi nugget ayam dan oseng kacang panjang tempe, kami turun ke Segara Anak, untuk camp disana. Kabut mulai turun, dan sedikit gerimis. Ada bagusnya juga jalanan di bawah ketutup kabut, karena jalannya terjal curam berbatuu.. sadis ini rinjani haha. 

Plawangan Sembalun - Danau Segara Anak

Di sepanjang perjalanan kami banyak papasan sama warga kaki Rinjani yang hendak dan akan pergi ke danau, ada yang mancing selama berhari-hari pulang bawa ikan 10kg, ada yang niat nya berobat ke pemandian air panas bahkan seorang nenek yang fisiknya udah renta dan jalan pun susah tetap semangat menaiki undakan-undakan batu nan terjal sambil berzikir dan bertakbir.. lalu seketika saya merasa tertampar karena masih sering ngeluh :/

setelah melewati dinding curam berbatu selama hampir 2 jam, kami disambut lagi dengan sabana yang cukup puanjang.. mantab sudah gunung php ini.


akhirnya liat air danau juga !

Jam 18 kami sampai di camp area. Sayang banget, banyak sampah bertebaran T_T tisu dan kemasan plastik berceceran di semak-semak. aroma pesing juga tercium dari bilik2 bangunan toilet di camp area.
gunung terindah dengan sampah yang berceceran :((

Day 4 (2 Juni 2015)

Paginya kami jalan ke hotspring. untuk berendam air hangat. yang cowok si bisa mandi, yang cewek ngerendem kaki aja.. ribet soalnya kalo basah. Ms ucup, wira n cipto udah gaya-gaya ala putri duyung gitu --" iyeuuh
hot spring dari atas

duyung duyung in action --"

Kegiatan orang-orang di Segara anak selain males-malesan adalah memancing ikan. Cipto dan wira juga nyoba peruntungan mancing di danau ini, tapi apalah daya cuma ada 2 ekor mujair sebesar telapak tangan aja yang nyantol di kail :D akhirnya tuh ikan kita kasi ke pak porter aja yang akhirnya dimasak kuah asam pedes pake sambel kering khas lombok, kita cuman nyicip kuahnya ajah.. rasanya seger banget..  menu nasi mawut goreng sosis telor kita langsung kalah telak rasanya huahua

nasi goreng mi sosis telur feat kerupuk bawang made by rame-rame


Sebenernya blom puas nikmatin Segara Anak, pantes kalau warga banyak yang betah tinggal berhari-hari di sini, tempatnya tenang dan indah..  hhmmm tapi karena gak bisa terlalu lama kami harus segera pergi.. kapan-kapan pengen banget kesini lagi, tapi ngebayang treknya... haduh nunggu kakik ini pulih dulu dari trauma haha.. 

 
terima kasih Tuhan, telah berikan pecahan surga dunia di sini


sama temen2 yang ketemu di twitter *kecuali yang nyempil di belakang* :p


Abis sarapan sekitar jam 12 siang, kami cus ke camp selanjutnya di Pos 3 Senaru, karena saran pak Porters daripada kemalaman nyampe pos akhir Senaru. Lagian juga Senaru ini hutan tertutup, beberapa catper yang saya baca malah ada kisah horor nya kalau tengah malam masih ditengah hutan.. hiiyy.. cari aman aja kalao begeto.

Sebelum turun ke Senaru, kami harus naik dulu (lagi)  melewati bukit nan terjal berbatu yang titik tertingginya ada di Plawangan Senaru. Mantap jalannya, dari merayap sampe semi wall climbing aadaa.. di sepanjang jalan ini pula kami mulai banyak melihat 'ranjau' huaa.. parah deh di jalur buang ranjau sembarangan. mana gak d tutupin pulak ! 
trek Segara Anak - Plawangan Senaru
lembah dibalik Plawangan Senaru - Pos 3 Senaru

 Setelah sampai di Plawangan Senaru, jalan sudah relatif menurun. tak ada lagi tanjakan. dan dimulai lah penyiksaan dengkul ! Paha dan betis sudah mulai teriak kalau memijak di turunan wkwk. Jm 19, hari sudah gelap ketika kami sampai di camp. Pak Porters udah masak nasi pecel dengan lauk telur dan tempe.. duuhh nikmat banget di malam terakhir kami ! lahap semua dah makannya

Day 5 (3 Juni 2015)

Hari terakhir !
Kami akan melewati 3 pos. yaitu pos 2, pos ekstra dan pos 1 sebelum akhirnya sampai di gerbang Senaru. denis dan galuh mulai rajin ngecek jarak pakai GPS berharap udah deket gerbang keluar. tapi yang ada malah ngenes karena gak nyampe-nyampe padahal kayaknya jaraknya deket di layar haha

Pos demi pos berlaluu.. sepanjang jalan hutan tertutup, tak ada pemandangan indah yang bisa terlihat.. kami sering juga papasan sama para bule dan para porternya yang baru naik lewat jalur ini, masih pada wangi-wangi beda sama kita yang 5 hari belom mandi (tapi tetep wangi) . Iin sempet cidera ankle alias keseleo karena gak konsen pas mijak diturunan.

Setelah 5 jam berjalan dengan langkah gontai, batere udah mo abis, kaki udah mo potel.. Jam 12.54 kami sampai di gerbang Senaru.. Alhamdulillah.. 
tapii ternyata perjalanan ini belum berakhir saudara-sodaraaa, pick up zone nya masih jalan lagi kebawah selama 30 menit.. huaha pengsan !

Sebenarnya ada jasa odjek juga si disitu, kl gak salah 50 ribu untuk sampe ke parkiran. tapi demi solidaritas dan semangat pendaki sejati kami tetap lanjut dengan berjalan kaki . Semangat !!

muka muka 5 hari belom mandi

warung di dekat gerbang Senaru

sampe parkiran sudah ada pick up Kang Sabar yang menanti, sepanjang jalan juga cukup banyak kios warga yang jual souvenir emblem dan kaos rinjani (saran sih kalau mo beli kaos tema rinjani di sini aja karena di mataram susah carinya, ada  tapi norak sablonnya)

Kami langsung pesen es kelapa muda dan bakso yang nangkring di pojokan. balas dendam ! baru kemudian balik lagi ke base camp kang sabar di sembalun untuk bersih bersih diri dan ngambil barang yang dititipin di sana, dan malamnya baru kami berangkat ke Mataram

FYI, Bagi yang mau langsung ke mataram atau ke pelabuhan Bangsal (menuju gili trawangan) juga bisa langsung dari Senaru, karena jaraknya lebih dekat. 
atau kalau mau balik lagi ke Sembalun, mending ke Gili Kondo dulu yang jaraknya deket ke sembalun baru kemudian ke Gili Trawangan. Kalo pake transportnya Kang SABAR sih fleksibel mau kemana aja asal gak pas bentrok sama jadwal jemput orang lain aja.

Setelah magrib kami baru out dari basecamp, sempet mampir ke ahli pijet keseleo Sembalun juga (belakangan kami tau kalau Sembalun tenar sama keahlian tukang pijetnya) untuk ngobatin keseleonya Iin, dan ajaibnya cuma di usap-usap plus dikasih ramuan obat aja di ankle-nya, padahal dy udah siap-siap mo teriak kenceng.
Nyampe Mataram kami nginep di Wisma Nusantara 1 dengan tarif 35 ribu per orang (kamar mandi dalam tanpa kipas/ac/tv) agak horor si suasananya tapi kan paginya juga udah check out.  Disini kami berpisah sama kang sabar, agak sedih nih, secara kang sabar baik bangett mau nganter kemana-mana. 

lalu besok paginya, ms Ucup dan Ardi langsung balik ke Bandara karena harus lanjut kerja. Sementara, saya, iin, Wira, denis & Galuh kami lanjut ke Gili Trawangan (masih syangupp, kalo gak syanggup di syanggupin ! - postingan menyusul)


Kalau ada yang mau  mampir liat beberapa scene gabungan video kami hasil olahannya Wira boleh dilihat disini


Berikut pengeluaran kami selama di Rinjani selama 5 hari (diluar tiket pesawat/kapal ke Lombok PP)

1. Transportasi Mataram - Sembalun, Senaru - Sembalun, Sembalun - Mataram @ 180K
2. Porter per hari 200K x 2 porter x 5 hari dibagi 8 orang @250 K
3. Logistik @ gak sampe 200K
4. Nginep & makan 3x di basecamp kasaran sekitar 100K


CP Transport Kang Sabar 082339046192 atau bisa hub via twitter nya di @shobirinRien

*total biayanya jauuh lebih murah dibanding ikutan open trip.. kalau mau naik gaya 'enak' bisa banget di upgrade, kalau mau dipress lagi bisa diilangin tuh jasa porternya, tapi fisik kudu kuat bawa logisitik sendiri hehe

Kesimpulannya : Rinjani ini tipe perjalanan long track apalagi kalau mau sekalian ke Danau segara anak, mesti siapin mental fisik , karena menurut saya track Rinjani jauuuh lebih melelahkan dibanding Semeru.

Rabu, 17 Desember 2014

Buang Air di Gunung (?)



Who doesnt love Sabanna ? Siapa yang gak mau guling-guling di padang rumput nan indah dan luas seperti foto foto di atas ? dan tentunya tanpa di bayang-bayangi kekhawatiran akan keberadaan 'ranjau' yang mematikan ?

Yak.. ranjau, bukan dalam makna yang sebenarnya. Ia masuk dalam kategori SAMPAH yang mengganggu keindahan pegunungan. Ranjau yang saya maksud adalah 'ranjau' darat yang teksturnya lengket jika masih baru dan kering kalau udah kelamaan dijemur >.< Ranjau ini merupakan hasil olahan akhir dari pabrik yang bernama manusia ! Sudah tau kan yang saya maksud? tak perlu saya deksripsikan lebih vulgar lagi kan?

Sungguh tidak berperikemanusiaan, orang-orang yang tega mengotori sabana indah ini dengan ranjau buatannya,, apalagi kalau lokasinya di jalur atau di sela-sela rumput dengan latar belakang pemandangan yang indah dan tak jauh dari jalur. Lebih parah, ranjau ini dibiarkan tergeletak tak berdaya tanpa dikubur dan ditutup tanah sedikit pun T_T (salah satu teman saya pernah kena jebakan ini).
Memang sih gak gampang menemukan tempat buang air yang ideal selama mendaki di gunung, apalagi untuk para pemula yang terbiasa hidup di kota dengan fasilitas toilet yang bersih. Tapi justru di gunung ini, menurut saya, keliatan aslinya seseorang, apakah dia orang nya bersih atau nggak. Kalau emang orang nya bersih, pasti dia gak akan tinggalin kotorannya gitu aja, baik itu kotoran dari perut sendiri atau tissu yang digunakan saat buang air

Oleh karena itu, demi menjaga kebersihan dan keindahan pegunungan, berdasarkan pengalaman empiris selama beberapa kali saya mendaki, ada baiknya saya bagi tips mana yang sebaiknya dilakukan dan tidak ketika buang air..
Dont :
  1. jangan buang air apalagi buang air besar di sepanjang Jalur Pendakian, kalaupun kebelet. Tolong melipir agak jauh dari jalur. Hargai pendaki lain di belakangmu agar ia tak menginjak kotoranmu
  2. jangan buang air di daerah atau stupa atau tugu peninggalan sejarah. Hargai warisan nenek moyang !
  3. (KHUSUS PARA LELAKI) Jangan simpan urine atau buang air di dalam botol plastik, lalu botolnya kamu buang gitu aja di atas gunung tanpa kamu bawa turun. Banyak banget saya ketemu yang beginian. Jorok. Ini ide praktis, tapi gila! coba bayangkan butuh berapa lama botol plastik terurai? Belum lagi dengan keberadaan urine di dalamnya. udah berubah warna jadi apa itu belasan tahun ke depan?
  4. Jangan buang bekas tissue di sekitar tempat buang air. Ini miris banget, beberapa tempat buang air ditandai dengan bekas tisu-tisu yang bertebaran di sekitarnya :( Tolong sebisa mungkin bawa kembali bekas tisu nya.
  5. jangan tinggalkan Kotoran mu begitu saja. Lebih baik gali lubang lalu timbun dengan tanah. Malu sama kucing !
Do :
  1. Cari tempat yang sekiranya aman dan tertutup. Di balik semak semak tinggi, jauh dari pandangan mata pendaki lain, bukan di areah perkemahan, bukan di jalur dan yang paling penting bukan di tempat yang berbahaya dan mengancam jiwa
  2. Bagi wanita yang rada ribet dan suka risih, demi alasan keselamatan dan kenyamanan bawa temen pas mau buang air, itung-itung gantian jagain. Buang air saat kondisi hampir gelap juga lebih nyaman :D
  3. Ingat! kalau mau buang air besar, bawa pisau atau kayu keras untuk gali lubang... lalu setelah terisi .. tutup lagi dengan tanah. Ini lebih beradab dibanding, pup lalu tinggalkan.
  4. kalau masih risih juga, usahakan gak usah pup di gunung, tahan sampai turun lagi. ini yang rada sengsara bagi penganut harus pup tiap hari, apalagi kalau long-track. hahaa. Saya sendiri juga belum pernah pup di gunung, ntah kenapa gak bisa aja. Kemaren long-track hari ke 4 baru bisa keluar, itupun pas udah di bawah.
Sekian tulisan berikut curahan hati saya kali ini, semoga kita makin peduli dengan kotoran kita sendiri.  Ingat. GUNUNG BUKAN TEMPAT SAMPAH.

Selasa, 04 November 2014

Pendakian Semeru - 3676 mdpl


INTRO ..



Perjalanan ini bermula dari iseng nanya temen dalam komentar sebuah jejaring sosial.  Karena jadwal kerja yang tak memungkinkan lagi cocok dengan teman yang dulu mau nanjak semeru bareng. Akhirnya saya putuskan untuk join dengan teman-teman dari jakarta, dengan meeting point di stasiun Malang Kota Baru, Minggu 19 okt 2014.

Setelah mengatur strategi siapa yang akan menggantikan posisi kerjaan di Balikpapan, saya kabur dulu ke Jogja hari Jumat malam lalu Sabtu Malamnya, cus ke Malang dengan kereta Malioboro Ekspress yang sudah saya pesan via online.

Malioboro Ekspress berangkat tepat jam 19.30 dengan estimasi waktu tiba di Malang jam 4 subuh. Saya cocokin dengan jadwal rombongan jakarta yang perkiraan tiba jam 7 pagi, dengan asumsi daripada mereka yang nunggu saya lebih baik saya yang nunggu mereka kalau keretanya ngaret. 

Jam 4 pagi teng, udah sampai di perhentian terakhir, stasiun Malang Baru. Dari sini sudah tampak beberapa rombongan lokal dan bule dengan keril-keril di punggung, destinasi populer kalau gak ke Bromo ya Semeru. 
3-4 jam di stasiun enaknya ngapain y? 
Saya putuskan cari mushola untuk subuhan sambil istirahat lurusin punggung. Dengan modal gps saya cari yang terdekat (mau tanya orang kok agak takut disasarin karena saya cewek sendirian). Lalu berjalanlah saya ke arah kiri dari stasiun. Di luar banyak muda-mudi berkostum metal ngemper, ternyata habis ada konser SID semalam, agak jauh dikit bapak-bapak beserta wanita berpakaian kurang bahan nongkrong di depan warung. Duh, begini ya rasanya solo trip di pagi buta, horoorr juga. Nyampe di tkp yang tertera di gps, ternyata mushola yang saya cari bukan mushola yang selalu hidup.. Pas lewat doi tutup.. untungnya lurus sedikit ada SPBU, jadilah numpang mushola disitu yang toiletnya juga antri banget sama anak-anak metal. dalam hati nyesel saya tadi cepet-cepet keluar gerbang stasiun, harusnya di dalem ada mushola dan toilet yang jauh lebih nyaman. 


Setelah agak terang, barulah saya sightseeing jalan-jalan sekitar stasiun. Berat juga lama-lama bawa carrier, pemanasan pemanasan. Sambil nyari mushola yang agak gede, niatnya biar bisa lurusin punggung sama pejemin mata sebentar, kurang tidur 2 malam ini. Tapi gak nemu-nemu.. gagal sudah niat bobonya. Capek jalan, saya nyangkut di halte angkot, ngobrol gak jelas sama ibu-bu, bapak-bapak. Nunggu kabar dari rombongan jakarta, dan nunggu kedatangan seekor teman saya yang lagi ngelanjutin S2 nya di Malang yg juga mo ikut naik bareng. 

Bosen di halte, saya pindah ke gerobak Soto nyarapan pagi, terus pindah lagi antri toilet yang kayaknya cuma ada 1 toilet umum jadi kudu sabar antri, sampai temen saya yg domisili Malang ini dateng dan ngabarin kalau kereta Matarmaja dari jakarta mengalami delay.. Oke deh kita tunggu sampai batas waktu yang tidak ditentukan, ngemper cucok lagi depan stasiun lalu terdengarlah Matarmaja kemungkinan tiba sekitar pukul 10.40 pagi. SYEMM! ngaret lah rencana kita.. 

Makin siang stasiun makin rame, makin panas. Muda mudi penonton konser semalam makin merapat ke stasiun nunggu kereta pulang. Udah jamuran nunggu, jam 11 akhirnya yang ditunggu tunggu tiba. Dan bermunculanlah wajah-wajah baru dan beberapa wajah lama yang saya kenal total sekitar 20 orang. Setelah kenalan singkat, kami membelah diri menjadi 2 tim angkot menuju desa Tumpang. Desa yang jadi basecamp sekaligus mengawali perjalanan kami. Langsung ke catper ..
---------

Pendakian Semeru 19 - 22 Oktober 2014
 Hari 1
Malang – Tumpang – Ranupane – Ranu Kumbolo

Malang ke Tumpang via angkot turun di basecamp Tumpang, kami membagi tim untuk belanja logistic di pasar Tumpang.
Melengkapi syarat yang belum lengkap seperti fotokopi ktp dan surat keterangan sehat plus Materai 6000. Lebih baik fotokopi disiapin 3 lembar deh biar gak rempong sampai sana. 

Di Tumpang wajib sewa Jeep/ Truck untuk ke Ranupane, pake mobil sendiri jg bisa sih tapi medannya hard disarankan pake 4WD, kalau motor masih bisa naik juga *asal yang dibonceng rela turun pas motornya gak kuat naik  :D 
Estimasi waktu perjalanan Tumpang - Ranupane adalah 2 jam


sekitar jam 2 siang, kami berangkat dari Tumpang, ngejar waktu maksimal boleh mendaki. Jam 4 kurang sampai di Ranupane, cuaca hari itu kabut dan sedikit hujan gerimis, berdasarkan pendaki yang baru turun, cuaca di atas lagi gak enak dan ada sedikit badai. Wah. bikin nyali agak ciut. Setelah mengurus perijinan, membayar ongkos registrasi selama 3 hari (total 75rb), dan ngisi perut di Warung Soto dekat Pos Ranupani kami berangkat menuju Ranu Kumbolo sebagai tempat camp pertama kami.

Ranu Pane ke Ranu Kumbolo menempuh sekitar 10,5 km dalam waktu 5 jam perjalanan

Pos yang dilewati Ranu Pani – Pos 1 – Pos 2 – Watu Rejeng – Pos 3 – Ranu Kumbolo

Ranu Pani - Watu Rejeng tracknya ringan, gak banyak tanjakan yang berarti

Watu Rejeng - Ranu Kumbolo nah ini yang tracknya cukup banyak nanjak

Perjalanan kami lalui dengan canda tawa dan cukup banyak istirahat. Kalau ada yang capek, tinggal bilang 'break' maka yang di depan berhenti, duduk sebentar untuk minum dan makan cemilan. 

Sekitar jam 9 malam, kami sampai di Ranu Kumbolo. Udah gelap jadi ranu kumbolo gak keliatan cakep nya, cuma bintang-bintang yang indah bertaburan di atas dan beberapa tenda yang sudah duluan berdiri di bibir danau. Malam itu kami cuma masak air panas aja untuk angetin badan, makan malamnya sudah kita bawa dari bawah jadi tinggal makan. yah walau lauknya udah awut-awutan karena dibawa dengan cara brutal, tetap lahap makan. karena inilah nasi terakhir yang bentuknya paling bagus dan lauk terenak yang kita makan sampai 3 hari ke depan. 

light painting.. written by idung



----------------------------
 

Hari 2



Ranu Kumbolo 2400 mdpl .

Masih malas rasanya bangun tidur sepagi ini, dingin pulak. jam setengah 5, dari balik tenda sudah terlihat semburat warna jingga tanda matahari mulai tampak. Pun, sudah cukup ramai suara manusia-manusia yang menunggu pagi. Gak tahan godaan, akhirnya melek juga. Kapan lagi liat view yang begini. Keluar tenda dan ..... 

tanpa babibu lagi semua narsis, jepret sana sini.





Setelah matahari cukup tinggi dan cukup menghangatkan, baru kami masak. Menu pagi ini, nasi yang kurang mateng, sayur sop bakso pakai lauk kering kentang teri.

Kemudian beres-beres tenda, dan meninggalkan barang yang kurang penting dibawa dalam tenda seorang kawan yang ditinggal dan dibiarkan berdiri di Rakum selama kita summit. Pasrah, insya allah aman (digembok juga sih).

 Jam 9.45 kita mulai perjalanan lagi menuju camp ground selanjutnya KALIMATI

Yang akan dilewati :

Ranu Kumbolo - Cemoro Kandang - Jambangan - Kalimati dengan estimasi perjalanan 4 - 5 jam.

Dari Rakum menuju Cemoro Kandang kita akan melalui Tanjakan Cinta. udah pada tau kan yah betapa populernya tanjakan ini. Tanjakan yang cukup bikin males.








while hiking on Tanjakan cinta keep thinking about someone and dont look back ! sek sek ak tak mikirke sopo yo












Di pucuk Tanjakan Cinta

selesai Tanjakan cinta kita langsung disuguhi hamparan padang sabana nan indah.. Oro Oro Ombo, ada dua jalur jelas yang sama-sama tujuannya ke Cemoro Kandang, mau terabas lewat padang rumput dan bunga kering di bawah atau mau melipir di pinggir bukit di atasnya bisa.. Bunga bunga kering coklat ini akan tampak indah berwarna ungu di awal musim kemarau (Mei-Juni). Tapi karena sekarang puncak kemarau, bunganya jadi kering.  Tidak sampai 30 menit kita sudah sampai di Pos Cemoro Kandang










Oro Oro Ombo




Cemoro Kandang - Jambangan ( 10.54 - 14.15 )
Cemoro Kandang - Jambangan kita tempuh dalam waktu sekitar 2 jam. Medannya naik terus.. cuma sekali turunan kalo gak salah, jadi sering istirahat terus kita. Maklum faktor "U" :D *fyi dalam perjalanan kami bertemu bapak penjual nasi bungkus yang dihargai 15ribu dengan menu nasi telur ceplok dan mi goreng. Langsung sikat aja, cukup murah mengingat bapaknya harus naik segini jauhnya untuk jualan nasi
Dari Jambangan, Puncak Mahameru sudah keliatan gagahnya. Selama perjalanan juga banyak papasan sama rombongan pendaki dari yang lokal sampai negeri tetangga, malaysia-singapore, dari yang masih remaja sampe yg udah om-om dan ibu-ibu juga ada, semuanya semangat.. soalnya bawaan mereka di bawa sama porter :D saling tukar informasi sama pendaki lain tentang kondisi puncak yang katanya semalam masih ada badai.





Jambangan - Kalimati ( 14.25 - 15.00)

Jambangan - Kalimati tracknya bonus.. datar dan turunan.. tapi ini jadi PR pas balik --"


Jam 3 sore kami sampai di Kalimati, batas pendakian dan camp ground terakhir yang di izinkan TNBTS. Ya, sebenarnya pihak TNBTS sampai saat ini  TIDAK meREKOMENDASIkan para pendaki untuk ke puncak. 
Dari sini puncak Mahameru udah keliatan jumawa, gagah dan tinggi sekali, gak usah dibayangin besok gimana capeknya.

Setelah dirikan tenda dan masak makan malam berupa nasi yang hampir jadi bubur, sarden dan mi rebus. Abis magrib kami langsung istirahat tidur, karena pukul 11 malam harus persiapan summit. Tidur ditemani suara angin yang menderu dan dengkuran tenda sebelah.
** di Kalimati terdapat sumber air bersih, namanya SUMBER MANI. butuh 1 jam bolak balik. Refill kebutuhan air minum di sini.


Waktu tempuh Ranu Kumbolo 2400 mdpl –Kalimati 2700 mdpl 5 jam ( 9.45 - 15.00 )


------------



Hari 3
Kalimati – Puncak – Kalimati – Ranu Kumbolo

11 malam persiapan summit. Tenda dll ditinggal semua di bawah, dan hanya bawa daypack berisi minum dan makanan ringan secukupnya. Berdoa bersama semoga cuaca pagi ini bersahabat, perjalanan dimudahkan dan dilancarkan.

Pukul 23.30 kami mulai bersiap jalan menuju Arcopodo. Ada 2 jalur menuju Puncak, jalur lama dan jalur baru. Entah kenapa kami malah masuk ke jalur baru yang ternyata dari awal tracknya sudah berupa jalur kerikil campur pasir, padahal kami masuk lewat pintu yang sama, taman Edelweis.

Berbeda dengan jalur lama yang tracknya masih berupa tanah. Track ini membuat kaki kami sudah bekerja keras lebih awal, membiasakan medan kerikil pasir yang kalau diinjak, naik 1 langkah turun ½ langkah. Track yang seharusnya baru kita hadapi saat memasuki batas vegetasi kalau lewat jalur lama. Track ini agak horor dilewati, jalannya memang cuma nanjak lurus, tapi curam dan beberapa ruas jalannya ada longsor dan pohon yang tumbang. 
Mental fisik mulai diuji disini, jalur yang seolah tak berujung, langkah yang seolah jalan di tempat, padahal ini belum batas vegetasi kalau lewat jalur lama Arcopodo.




 

04.30
Semburat jingga sudah mulai tampak, kami bahkan belum dapat separuh jalan menuju puncak. Dingin, lapar, haus, capek karena fisik yang sudah dikuras sejak 2 hari yang lalu, belum lagi kurang tidur akibat perjalanan dan aktivitas sebelum mendaki. Berbagai level capek dari capek biasa, capek banget, sampai capek mau mewek (halah) hampir putus asa saya lewati. Mendongak ke atas puncak tak kunjung tampak, menoleh ke bawah jalannya sudah jauh. Masa iya saya mau turun. Setiap 5 langkah ke atas saya terduduk diam, berbaring sejenak, pejamkan mata, mencari sisi gunung yang terkena hangat sinar matahari, tapi dinginnya masih dominan menusuk ujung-ujung jari. Tiap mata ini terpejam sesaat, semenit dua menit terbuka lagi, lihat pemandangan di bawah terus dongak lagi ke atas… ya Allah.. pikiranku semrawut. Mau naik kok ya capek banget ya.. tapi kalau gak naik sakitnya tuhh nanti belakangan.. 11 orang tim kami, 4 orang di antaranya sudah duluan naik, 4 orang kedua termasuk saya masih bertengger di punggung gunung, 3 orang lainnya sepertinya mengurungkan niat untuk muncak.











hampir pukul 9 pagi, saya MASIH JUGA belum sampe puncak, mengumpulkan puing-puing semangat yang tersisa, mengesampingkan rasa lapar lelah ngantuk. Di bawah saya masih banyak orang-orang bersemangat naik, saya gak boleh kalah semangatnya.





Sampai beberapa teman dari rombongan kami turun, dan memberi semangat “Ayo mbak, semangatt.. dikit lagi itu puncaknya. Cepat sebelum jam 10!” lalu kemudian ditepuk bahu saya, di tarik tangan saya agar lekas berdiri. aku kudu semangat !! Benar saja tak sampai 10 menit dari tkp saya sudah mencapai puncak.









Akhirnya kaki ini menjejak di tanah datar.. Alhamdulillah syukur padaMu ya Rabb sudah di izinkan menapakkan kaki di tanah tertinggi Jawa.. seketika capek hilang, plong rasanya.. terharu campur puas dalam hati.. bisa juga melawan keterbatasan diri sendiri. Langsung kupeluk tanah di depan ku (baca: terkapar).


Kawah Jonggring Saloka masih jalan beberapa ratus meter dari Puncak, sebenarnya pengen ke sana, tapi berhubung sudah mulai siang dan beresiko terpapar gas beracun ketika arah angin berubah, saya menatap dari jauh saja. Angin di atas cukup kencang, meski matahari sudah tinggi tapi suhu tetap saja rendah. Tak sampai 30 menit kami di atas, setelah puas foto-foto kami langsung turun. (yang bikin sedih memori card camera saya tertinggal di sini, entah jatuh dimana).



Jalan menuju Jonggring Saloka


Lain cara naik, lain lagi cara turunnya, turun jauh lebih menyenangkan. Cukup seluncuran saja di jalur pasir, dalam waktu kurang dari 1jam, sampailah anda di batas vegetasi. Adil gak tuh? 9 jam waktu naik, dibalas setengah jam waktu turun.. oke.

Dari batas vegetasi, kami lanjutkan turun menuju Arcopodo – Kalimati. Nah, disinilah baru kami sadar.. kalau jalan yang kami lewati semalam beda dengan jalur kami pulang. Jalur yang kami lewati ini jalur lama, yang di dominasi tanjakan, tapi tracknya masih berupa tanah, bukan kerikil pasir. Pantas aja kami rasanya gak nyampe-nyampe puncak, dari awal udah bosen kena track kerikil pasir.

Sekitar jam 13.00 sampai di kalimati, dalam kondisi lapar ngantuk haus..

Hari ini juga (hari ke 3), sesuai rencana, kami harus melanjutkan perjalanan kembali ke camping ground di Ranu Kumbolo

16.30 setelah beres-beres dan makan secukupnya. Kami turun ber 11 menuju Ranu Kumbolo. dijalan papasan sama orang yg dari jauh mirip artis.. setelah di liat makin dekat ternyata mereka adalah Bucek, Vicky dan tim My Trip My Adventure! Yah, kecepetan sehari kita naik. Kalo bareng kan mayan ke shoot :D ajak selfie bareng sebentar, terus lanjut lagi perjalanan.


(c) bagus

 Jam 19.30 an kami sampai di Ranu Kumbolo, dirikan tenda dan masak makan malam lagi
---------------------


Hari 4

Last day ... hari terakhir kami di Semeru.. ah sedih tapi seneng juga.. sedih karena harus pergi meninggalkan tempat indah ini, seneng karena kami akan pulang.. bertemu keluarga teman teman dan juga kasur !

Hari ini rute kita Ranu Kumbolo – Ranu Pane – Tumpang – Malang

Pagi yang tentu saja indah dan cerah di Ranu Kumbolo. Kegiatan kita foto-foto, santai dan cewek cewek bertugas masak. hufff

9 pagi, setelah sarapan dan beres-beres kami harus pulang. Mengejar jadwal kereta temen2 ke Jakarta, dan jadwal tiket saya pulang dari Surabaya.

Hari yang terik kala itu, tapi tak menyurutkan semangat untuk (lagi) foto-foto. Ranu Kumbolo bagus bangett dari jauh. Danaunya, sabananya, bukitnya.. ini yang akan selalu dirindukan.





Ranu Kumbolo dan Sabana di sekitarnya



Di tengah perjalanan menuju Pos Watu Rejeng, di Pos bayangan ternyata ada bapak penjual SEMANGKA dan air botol.. waaahhh.. syurga benerrr ini.. Benar – benar energy booster ! 2 iris semangka dihargai 5000 rupiah, 1 botol sedang aqua dihargai 10rb. Tak apalah diembat aja, hitung-hitung menghidupkan perekonomian warga. Abis makan semangka, jalannya pada cepet semua, gak ada capeknya.
**sudah ada sinyal telkomsel dan im3 di sekitaran Pos 3 - Ranupani (hilang timbul tergantung bukit). Di Pos 2 ada yang jual semangka dan air kemasan lagi.
Jam 13 lewat kita sampai di Ranupani. Siap-siap turun, dan nyerbu toilet . Bersih-bersih dikit, nunggu carteran jeep sambil beli souvenir.

Jam 15 sampai Tumpang, over Jeep ke angkot
Jam 16 sampai stasiun Malang Kota Baru. Disini kami berpisah, pamitan sama teman-teman seperjuangan yang sangat bersemangat :D semoga kita bisa ketemu lagi di trip selanjutnya. Terus saya numpang temen minta anter ke terminal.
Jam 16.15 sampai terminal Arjosari. Ngejar Bus Patas ke Surabaya, pas banget berangkat 5 menitan kemudian. Sempat was was juga ketinggalan pesawat.
Jam set 7an sampai surabaya, lanjut ngojek ke Juanda. Masih sempet mampir ke toko oleh-oleh juga. Sampai bandara jam 7.20. Karena udah web check in jadi tinggal bayar airport tax. Dan pesawat saya delay. dari jadwal seharusnya 7.55 menjadi jam 9.30 malam. Ngemper lagi di bandara dengan kondisi 4 hari blom mandi haha.


Jadi kira-kira seperti itu rentetan catatan waktu perjalanan saya. Alhamdulilah sampai catatan ini dibuat tak ada kurang suatu apa pun, semua teman-teman juga pulang ke rumah dengan selamat.
*kecuali memori card saya yg tertinggal di puncak, sisa dari kamera hp aja yg saya tampilkan disini, heuu


amazing partners !





Saat perjalanan pulang ke Tumpang, sabana Bromo terbakar


Notes :
  1. Persiapkan fisik jauh jauh hari sebelum pendakian.. perbanyak joging atau sepedaan. Deket hari H selalu jaga kesehatan dan cukup istirahat biar nggak drop selama pendakian
  2. Persiapkan perlengkapan PRIBADI selama pendakian, jaket tebal (windbreaker), jaket tipis, kaos, celana, kaus kaki lebih dari 2 pasang, sepatu hiking, sleeping bag (wajib, disarankan polar), tenda tergantung kapasitas, head lamp, trekking pole (optional), sendal tipis (kalau buat keluar tenda), buff atau slayer (semeru berdebu)
  3. Persiapkan obat pribadi, suplemen vitamin (minimal tolak angin, becomc, parasetamol, obat diare, minyak kayu putih, betadin, hansaplas)
  4. Persiapkan logistik selama 3-4 hari
  5. Sampah jangan lupa di bawa turun, yg organik bisa dibakar sambil buat api unggun, jangan terlalu dekat dengan rumput dan INGAT selalu tinggalkan perapian dalam keadaan PADAM ! Berita kemarin, Sabana RANU KUMBOLO terbakar karena api yang merambat dari sampah yang terbakar dan ada tabung gas yang meledak. Saat kemarau rumput menjadi sangat kering dan rawan terbakar.
  6. Sumber air Semeru ada di Ranu Pani, Ranu Kumbolo dan Sumber Mani (Kalimati). Air Ranu Kumbolo merupakan danau yang tak bergerak, jadi disarankan jangan mandi atau pup, kalau nyuci alat masak, bekas air nya dibuang dirumput lebih bagus agar tak mencemari air danau. Karena rasa air danau ini sesungguhnya tidak terlalu segar, rasanya udah agak bacin (mungkin karena banyak yang nyuci nyuci disini), tapi masih aman diminum (terbukti saya gak kena diare)
  7. Air di sumber mani berasal dari mata air pegunungan. Airnya bersih dan seger.
  8. sudah ada sinyal im3 dan telkomsel (putus nyambung) selama perjalanan Ranu Pani - Watu Rejeng
  9. Jangan heran kalau ada bapak penjual nasi bungkus, gorengan atau semangka bahkan rokok di sekitar Ranu Kumbolo - Kalimati. Kadang pagi-pagi udah ada warga yang nawarin makanan di Ranu Kumbolo. Semangka saat perjalanan Ranu Pani - Ranu Kumbolo, kadang di Cemoro Kandang. Yah tapi jangan terlalu ngarep mereka selalu ada ya karena itu tergantung mereka mau naik apa gak.. tetap logistik harus cukup
  10. Selalu berdoa sebelum memulai perjalanan, jaga selalu kekompakan tim, jangan sampai ada anggota yang tertinggal sendiri di belakang, bahkan sweeper sekalipun.
  11. Saat turun dari Puncak jangan turun sendiri, karena jalur kadang cukup membingungkan dan banyak jurang, disinilah lokasi yang paling sering membuat pendaki kesasar. Kalau bingung lebih baik diam dan menunggu ada orang lain yang turun jadi bisa barengan
  12. Puncak itu bonus, tujuan utama itu pulang dengan selamat. Kalau fisik dan cuaca gak memungkinkan jangan paksa naik. TNBTS tidak merekomendasikan untuk naik ke puncak.
  13.