Thursday, December 1, 2016

day 1 - Harajuku, Tokyo Tower, Shibuya Crossing



Setelah 9 bulan lamanya menanti tiba juga yang ditunggu. Trip dimulai tanggal 15 oktober - 29 oktober 2016 untuk explore sebagian jepang dengan rute Tokyo - Alpine Route - Shirakawago - Kyoto - Osaka. Lengkapnya bisa klik di postingan itinerary dan transport


Cerita kali ini (utk ke kesekian kaliny) saya ngetrip bersama rekan yg dipertemukan twiter n bpi dulu yaitu iin, wira dan ardi. Ditambah 2 orang teman baru lagi dari bpi yaitu rini (jkt) dan cece enji (mks). Singkat cerita kami semua akhirnya bertemu di soeta tgl 15 okt tengah malam (karena semua beda domisil)

Delay keberangkatan hampir 3 jam oleh maskapai milik negara ini jadi penyebab mundurnya itinerary plan😧. Setelah mengudara 7 jam kami sampai di Haneda pukul 11 siang, mundur 2 jam 30 menit dari jadwal seharusnya. 


Ada sedikit cerita ngelewatin imigrasi. 2 temen saya mengalami sedikit 'kesulitan' lolos, yang pertama si Wira, kesulitan bermula saat dia agak berani pakai bahasa jepang. pas di tanya balik sama petugasnya eh dia gak bisa jawab. dan di geretlah dia ke bagian security imigrasi, di interograsi sama petugas berangkat sama siapa, ngapain ke jepang dll. Sampai wira bareng petugasnya nyariin kita di pinggir conveyor belt bagasi dan mengkonfirmasi kalau Wira beneran teman kita baru di lepas (apa mungkin karena mukanya mendukung juga *muka kriminal* eeh)


Masalah kedua si Cece, dia terganjal masalah airbnb ! saya emang pernah baca di jepang katanya agak susah lolos imigrasi kalau pakai airbnb. Hmm, sebenarnya tidak juga. si Cece kemarin  masalahnya di tanyain full name nama owner imigrasi dan waktu itu kita cuma tulis First Name nya aja di form.. sebut aja si Kuma. Pas di cari di database penduduk Jepang, munculah beribu-ribu nama Kuma. dan waktu itu cece belom terkonek ke internet jadi gak bisa buka airbnb. Beruntung ada petugas imigrasi lain yang membantu Cece lolos periksa imigrasi. Jadi kesimpulannya biar aman selain catat alamatnya, pastikan Full name owner juga tercatat. Rest 3 of us semua lancarr tanpa hambatan


Setelah lolos pemeriksaan, kami menuju lobi Kedatangan. di depan pintu sudah disambut majalah dan brosur-brosur cantik tentang Jepang, langsung kalap saya ambilin yang berujung berat-beratin tas ajah. Lalu mulai cari tempat beli pass yang kita butuhkan. 

Seperti Tokyo Subway pass 48 h + keikyu line dan pasmo di Keikyu Office Ticket lalu JR Tokyo Wide Pass dan Kurobe Option Ticket untuk ke Alpine Route di JR Central Office, di sini juga banyak banget brosur-brosur perjalanan yang colorful minta dibawa semua. Oh iya kalau beli tiket terusan di bandara, pastikan tanggal perjalanan kalian sudah fix, karena tidak bisa di ganti. Kecuali subway pass tanggal mulainya bisa dipakai flexible.

@ JR Central service centre dan petugas yg ramah2
Kochia season !


Petualangan menaklukan transport jepang kami mulai dari Haneda. Ada banyak pilihan transport dari bandara ke pusat kota seperti Limousine Bus, Tokyo Monorail dan Keikyu Line (subway) tentunya dengan harga berbeda. Kami pilih Keikyu line karena paling murah. Dan sudah bisa mengcover sebagian jalan ke tujuan kami yaitu shinjuku station

Menunggu keikyu line

Karena hari sudah lewat tengah hari dan dekat dengan jam checkin airbnb, kami putuskan untuk drop barang dulu di apartemen yg lokasinya di Okubo (1 stop train dari shinjuku station). Bergeraklah kami beserta koper kami menuju Shinjuku station (station tersibuk dan terbesar seantero Jepang *katanya). Kami juga janji meet up sama Rini yang udah duluan nyampe malam sebelumnya di station ini. oh ya di Tokyo jangan lupa untuk berdiri di sebelah kiri saat menggunakan elevator di fasilitas umum seperti stasiun, karena bagian kanan hanya digunakan untuk jalur cepat jadi kalau buru-buru kita bisa pakai jalur kanan.
Di tokyo - rata kiri utk jalur santai


Kesan pertama di Shinjuku station ini rameee bangett, di dalemnya banyak shop, restoran dll. Semua orang hilir mudik dengan tempo jalan yang cepat. Kami semua yang baru pertama kali ke jepang terpana sekaligus kaget, apalagi pas masuk automatic gate, semua serba cepett. Kami diam sejenak sambil mengamati orang-orang gimana caranya lewatin auto gate (hha norak ye).

Hari-hari awal pakai auto gate masih kagok  karena kami combine tiket subway pass dan pasmo. Kl subway pass masuk slot tiket, kl ic card (pasmo/suica dll) tinggal di touch atau dideketin di sensor atas. Kadang masih 'bego' pas mau naik kereta, harusnya masuk-keluar auto gate pakai kartu yang sama (subway pass in out atau pasmo in out) malah masuk pakai subway pass eh pas di gate keluar malah pakai pasmo. Jelas aja pintunya gak mau buka dan menyebabkan macet antrian πŸ˜‚ namanya juga turis baru. Harap maklum. Tapi tenang hari kedua dan seterusnya udah lancaarr dan terbiasa. 


Di shinjuku station pula kesengsaraan kami bawa koper dimulai, jadi ceritanya kami belum tau kalau di tiap subway station pasti ada fasilitasi lift (untuk wheel chair, dan priority user) juga eskalator, minimal sampai auto gate keluar. Jadi kami geret lah itu koper kesana kemari sambil kebingungan, sukur-sukur kalo nemu eskalator, yang apes kalau nemu tangga naik terus jauh, jadilah kita ngangkat koper sampe tangan pegel dan untuk sesaat mikir menyesal bawa koper (pengen bawa carier ajah). Jadi pesen saya, kalau dari subway dan bawa barang banyak lebih baik cari eskalator atau lift dulu, biasanya kalau dari platform/peron pasti ada minimal eskalator untuk naik.

south exit shinjuku st.

suasana subway

Dari shinjuku station kami langsung menuju apartemen di daerah Okubo. Cukup 1 stop naik kereta sampailah kita JR shin-okubo station, lanjut jalan kaki berbekal panduan foto yang diberi host kj, jaraknya gak sampe 1km. Daerah shin-okubo terutama yang dekat stasiun ternyata daerah yg cukup ramai. Semacam korea town mini karena banyak toko yang jual cd-cd k-pop, resto korea sampai gerai kosmetik korea. Selain itu sekitar lokasi apartemen bertebaran minimart dari lawson, sevel, familymart, matsumoto kiyoshi sampai 100 yen shop. Ada juga turkish resto (yang belum sempet cicip) dan bento termurah seantero jepang 290 yen. Link apartemen kami via airbnb, budget murce, lokasi oke apartemen shin okubo

Sebrang exit shin okubo
Area shin-okubo


Setelah beres-beres kami rearrange itin. Malam ini kami akan mengunjungi Harajuku (Takeshita Dori), Tokyo Tower dan terakhir Shibuya Crossing. Semua pakai subway dengan mix JR sekali. Peta subway yang kita ambil pas beli subway berguna banget. Apartemen kami ternyata deket juga sama station subway Higashi-Shinjuku. Jadi ke harajuku kami putuskan untuk pakai subway

Peta subway

Fyi, perbedaan stasiun JR dan Subway (Tokyo Metro & Toei Subway), Stasiun dengan label JR adalah railway yang dioperasikan JR untuk kereta non-subway, kereta cepat (limited express) dan shinkansen sedangkan Stasiun subway (logo metro atau toei) hanya mengoperasikan kereta subway saja, jadi inget ya ini 2 hal berbeda. Mereka menawarkan pass sendiri-sendiri jadi gak mungkin pass JR (JR Pass, dkk) bisa di pakai di Subway atau sebaliknya, kecuali naik train pakai IC card (pasmo/suica). 


Takeshita Dori, Harajuku

adalah satu jalan yang penuh dengan shop mulai dari yg serba 100 yen macam Daiso, toko kelontong sampai butik-butik mahal. Aneka tempat makan dan cemilan cantik macam crepes, golden chicken, cotton candy dan lain-lain. Awas kalaap !

Harajuku terkenal dgn street fashion nya, tapi menurut saya walaupun ga di sini juga semua rata-rata kece fashionnya, cuma disini lebih berani nyentrik. Couple-couple banyak yang pake baju samaan, sepatu sampe tas sminimal ada salah satu yg sewarna. Mau couple muda sampe yg udah bapak2 ibu2 semua gahul. Dari yang normal sampe yg aneh ada (saya pernah liat ada yg pasang jepit rambut diclip nyilang di poni yg menjuntai.. Asli anehh tapi dia pede aja tuh πŸ˜‚)

takeshita dori


 


Tokyo Tower
Tidak banyak yang saya tulis karena pas sampe sana cuma foto-foto di bawah aja, gak masuk dan gak naik juga.




Dari Tokyo Tower kami menuju Shibuya Crossing !

Oh iya ke Shibuya gak sah kalau belum ketemu Hachiko dalam wujud batu alias patung. Yang letak nya persis di sebelah stasiun Shibuya dan deket sama Shibuya crossing. Pas keluar stasiun kami agak bingung harus ke arah mana untuk cari patung Hachiko, lalu di tunjukin sama bapak-bapak Jepang yang kok baikk banget sampe di anterin ke TKP, ehh trrnyata pas sampe TKP dia minta duit recehan untuk makan, dia mohon-mohon sampe jongkok-jongkok. Kami bingung saling berpandangan, bapak ini semacam pengemis tapi bajunya rapih. Ardi n iin keluarin receh yang nilainya gak banyak, eh dia bilang kurang trus minta lagi. Haha lucu ya. Ternyata di Jepang ada juga yang begini.


Berhubung ini minggu, Hachiko lagi di kerumunin orang banyak, fotonya antri.



Terus lanjut ikutan nyebrang kayak orang-orang di Shibuya Crossing. Cuma ngeliat orang pada nyebrang aja udah seru lo.


 


Beberapa kami nyoba jalan lagi kearah Shibuya 109 dan Uniqlo, tapi sayang nyampe sana udah pada tutup shopnya. Ternyata bener kalau kebanyakan toko tutup jam 20.30. Tips kl mo shoping d jepang lebih baik siang-sore karena kalo malam waktunya sedikit
Musisi jalan jualan albumnya di sekitar shibuya crossing


Puas di shibuya crosing kami pulang pake subway. Dan niat ke Lawson dekat rumah untuk beli tiket ke Museum Fujiko F Fujio (Doraemon). Disini pun sempet kebingungan karena mesinnya gak Full English. Minta tolong kasir, doi gak bisa. Gak tau dia gak bisa, atau emang dia lagi sibuk padahal yang antri juga gak ada. Yang jelas di tanyain pake bahasa inggris dy gak bisa jawab πŸ˜‚. Akhirnya minta tolong sama orang jepang yang lagi ambil atm di situ. Tiket masuk museum fujiko seharga 1000 yen utk dewasa dan kita pilih sendiri tgl dan jam masuknya (pilihan jamnya 10/12/14/16). Dari mesin merah bertuliskan Loppi ini akan keluar struk pembelian tiket yang harus ditukarkan ke kasir dan diganti dengan tiket fisik yg asli

beli tiket museum fujiko f fujio di  loppi machine Lawson


Oh iya, info penting setiap stasiun punya banyak Exit atau pintu keluar (exit 1/2/3/4 dst), salah keluar pintu bisa makin jauh dari tujuan kita. Di setiap dinding peron pasti ada informasi tiap pintu keluar akan menuju kemana (biasa warna kuning) biasanya ditulis nama jalan atau landmark. jadi ada baiknya sebelum nyelonong keluar liat dulu infonya.

Karena ini terjadi pada kami yang sotoy keluar subway dari pintu exit langsung belok kiri (berdasarkan feeling arah pulang) tanpa liat googlemaps dulu. Tapi bukannya makin deket ke rumah, malah makin jauh beberapa ratus meter.


Continue to day 2 ....

No comments: